|
Sidang Jumat yang dirahmati Allah Kurang dari dua pekan lagi insya Allah kita akan bertemu dengan Ramadhan. Bulan mulia yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, anugerah terindah dari Allah bagi umat Islam sebagai petunjuk ketakwaan. Melalui Ramadhan pula kita umat Islam dilatih dan dididik agar menjadi manusia yang bertakwa. Al Qur’an pun apabila diringkas, inti pelajarannya adalah takwa. Setiap cerita tentang kiamat, tujuannya untuk meningkatkan ketakwaan. Setiap cerita tentang para nabi, juga bertujuan takwa. Cerita tentang hidup, mati, surga, dan neraka juga untuk meningkatkan ketakwaan. Segala perintah dan larangan pun tujuan utamanya adalah bertakwa. Karena dengan ketakwaan itulah kita umat manusia akan mencapai derajat yang paling tinggi dan diampuni dosa-dosa kita oleh Allah SWT. Pelajaran dari Nabi Nuh untuk kita renungi diabadikan dalam Al Qur’an: 2. Nuh berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, 3. (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, 4. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu[1516] sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui". Melihat pelajaran berharga dari ketakwaan itu, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam Surat Ali Imran ayat 102: 102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Jamaah jumah rahimakumullah Puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban sekaligus anugerah bagi orang-orang yang beriman. Secara khusus Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk menjalankan puasa agar menjadi manusia yang bertakwa. Rangkaian ayat dalam AlQuran yang menjelaskan puasa diawali dengan tujuan ketakwaan dan diakhiri dengan tujuan takwa pula. Dalam Surat Al Baqarah ayat 183 Allah berfirman: 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, Selanjutnya pada akhir ayat 187 Allah kembali menegaskan: 187. ......Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. Perlu kita ketahui bahwa ditengah-tengah runtutan wahyu tersebut terdapat materi yang tidak mengenai puasa. Pada ayat 186 Allah berfirman: 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Ayat ini merupakan pernyataan dari Allah yang begitu lembut, sangat halus, ramah dan penuh kasih sayang. Ayat itu menunjukkan betapa Allah memahami tabiat manusia. Manusia memiliki banyak keinginan, kebutuhan, dan menanggung beban dalam hidupnya. Namun manusia begitu lemah untuk mencapai segala keinginan, kebutuhan dan menyelesaikan beban hidupnya itu. Hingga manusia pun tak bisa hidup tanpa pertolongan. Dalam kondisi seperti itu, Allah menyapa manusia dan menawarkan pertolongan kepadanya. Maka kepada siapa lagi manusia akan meminta pertolongan selain kepada Allah. Allah sangat mencintai orang-orang yang berpuasa sehingga Allah meletakkan ayat yang tidak mengenai puasa itu diantara ayat-ayat tentang puasa. Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Allah azza wa jalla telah berfirman: Seluruh amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku, dan Aku yang akan memberinya balasan khusus. Puasa adalah perisai neraka. (HR Muslim) Dalam teks yang lain diriwayatkan oleh Bukhari: "Dia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena mencari keridhaanKu. Puasa adalah milik-Ku, dan Aku yang akan memberinya balasan khusus. Sedang kebaikan akan mendapat pahala sepuluh kali lipat." Itulah kabar gembira bagi kita yang akan menyambut bulan Ramadhan dan akan menjalankan puasa pada bulan mulia itu. Kabar gembira yang disisipkan Allah dalam perintah puasa agar kita tidak kehilangan momentum berharga untuk meminta pertolongan dan memanjatkan doa kepada Allah. Apapun doa yang kita inginkan. Karena orang yang sedang berpuasa adalah orang yang paling dekat untuk dikabulkan doanya. Sebagaimana Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, dia berkata “Nabi SAW bersabda: Orang yang berpuasa itu mempunyai doa yang tidak ditolak pada waktu berbuka”. Sidang Jumat Rahimakumullah AlQuran telah memberikan pelajaran dan hikmah bagi kita, bagaimana para nabi dan Rasul Allah berdoa penuh harap dan dikabulkan doanya itu oleh Allah. Kisah yang pertama adalah Doa Nabi Ayyub as Nabi Ayyub as pada mulanya dianugerahi oleh Allah kekayaan yang berlimpah dan anak yang banyak. Namun karena iblis berdoa kepada Allah bahwa ketakwaan Nabi Ayyub itu didasarkan atas kekayaannya maka Allah menguji Nabi Ayyub dengan ujian yang bertubi-tubi. Satu persatu anak-anaknya meninggal. Satu persatu kebun tanamannya terbakar. Sampai Nabi Ayyub pada puncak kefakiran dan masih diuji dengan penyakit parah yang menimpanya. Maka Nabi Ayyub berdoa kepada Allah dan doa ini diabadikan dalam Al Qur’an Surat Al Anbiya ayat 83: 83. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Inilah kisah yang berharga bagi kita. Tentulah kita dapat mencontoh doa Nabi Ayyub ini. Apalagi pada saat kita sedang sakit. Separah apapun penyakit kita. Dengan keyakinan yang tinggi bahwa Allah akan menyembuhkan penyakit maka insya Allah, Allah akan mengangkat penyakit itu sebagaimana Allah melenyapkan penyakit Nabi Ayyub as. Kisah ini pun diabadikan dalam ayat selanjutnya: 84. Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. Hadirin sidang Jumat yang imuliakan Allah Kisah yang kedua mengenai Doa Nabi Yunus as Kisah yang terkenal dari Nabi Yunus as adalah pada saat beliau ditelan ikan di samudera. Seorang manusia yang hidup dalam perut ikan tentulah merasakan betapa kematian begitu dekat, betapa udara begitu pengap, betapa suasana begitu gelap. Ketika manusia berada begitu dekat dengan kematian, maka itulah puncak kesulitan yang dirasakannya. Namun dalam kondisi bagai telur iujung tanduk tersebut, Nabi Yunus as tidak berputus asa. Beliau berdoa yang doanya diabadikan dalam Surat Al Anbiya ayat 87: 87. Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap[yaitu didalam perut ikan, di dalam laut dan di malam hari]: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Lantas Allah mengabulkan doa Nabi Yunus as tersebut sebagaimana dikisahkan dalam ayat berikutnya, Surat Al Anbiya ayat 88 88. Maka kami Telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. dan Demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman. Kisah ini mengajarkan bagi kita bahwa dalam kesulitan apapun, dalam kesedihan apapun, ketika kedukaan yang mendalam janganlah kita berputus asa. Tentulah amat baik bagi kita untuk mencontoh doa Nabi Yunus tersebut. Sidang Jumat Rahimakumullah Kisah selanjutnya mengenai Doa Nabi Zakaria as Setiap manusia pasti mendapatkan ujian dari Allah apalagi nabi dan rasul, orang yang dipilih Allah untuk membawa risalah kebenaran. Demikian pula dengan Nabi Zakariya as yang diuji Allah dengan kemandulan. Nabi Zakariya semakin renta termakan usia demikian pula istrinya juga sudah tua dan mandul. Namun sebagaimana ketabahan para rasul, Nabi Zakariya memanjatkan doa. Seolah-olah dia menghampiri Tuhannya, dengan suara lembut penuh ketundukan ia mengadu kepada Tuhannya, bermunajat dengan rasa malu karena meminta kebutuhan duniawi kepada Allah. Kisah ini diabadikan dalam Surat Al Anbiya ayat 89: 89. Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan Aku hidup seorang diri[968] dan Engkaulah waris yang paling Baik[969]. Kegigihan Nabi Zakariya dalam berdoa pun diabadikan lagi pada Surat Maryam ayat 3-6, Ia berkata pelan penuh kelembutan: 3. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. 4. Ia Berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku Telah lemah dan kepalaku Telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. 5. Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera, 6. Yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai". Bahkan Nabi Zakariya as memperkuat permohonannya dan berdoa kembali kepada Allah yang lagi-lagi doanya diabadikan dalam Al Qur’an. Surat Ali Imran ayat 38 berkisah: 38. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". Nabi Zakariya berdoa dengan penuh harap dan khusyu hingga ia menangis. Lalu datanglah malaikat Jibril yang mulia menyampaikan firman Allah kepadanya dengan suara yang lembut. Malikat itu berkata,“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) seorang anak yang namanya YAHYA, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (Maryam:7) Malaikat memanggil Zakariya yang tengah berdiri shalat di mihrabnya, “Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shaleh” (Ali Imran:39) Nabi Zakariya terkejut, dan sangat gembira dan senang. Namun ia bertanya heran: “Bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sudah tua” (Maryam:8 dan Ali Imran:40) Malaikat menjawab kepada Zakariya, “Demikianlah, Dia berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal kamu (diwaktu itu) belum ada sama sekali. (QS. Maryam (19): 9) Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (Ali Imran:40) Sidang Jumat yang dimuliakan Allah Demikian hebat pengaruh doa hingga dikisahkan berkali-kali di dalam Al Quran. Dan sesungguhnya doa-doa yang ada dalam AlQuran tersebut menjadi petunjuk bagi kita, menjadi harapan bagi kita, menjadi solusi bagi kita. Dikala kita diuji oleh Allah dengan sakit, maka ingatlah doa Nabi Ayyub. Ketika kita berada dalam kesulitan, kesedihan dan duka yang mendalam, ingatlah doa Nabi Yunus . Dan saat kita mengharapkan dikaruniai seorang putra, ingatlah untaian doa yang dipanjatkan Nabi Zakariya. Selain itu tentu masih banyak doa-doa lain yang sangat bermanfaat bagi kita dalam Al Quran. Kisah-kisah doa yang diabadikan dalam Al Quran itu memberikan semangat bagi kita agar tidak berputus asa, tetap optimis dan menggantungkan harapan kepada Allah melalui untaian doa kita. Ad du’a, silahul mukmin, wa ‘imadud diin, wa nuurus samaawaati Doa adalah senjata orang beriman, tiangnya agama, dan cahaya langit
 Seorang kawan perempuan bertanya,”Mas kalo perempuan haji gimana?”. Sekali lagi, sebenarnya saya bukan ahli fiqh, namun saya merasa perlu menjawab dengan sedikit pengetahuan yang saya punya. “Perempuan tetap wajib haji, namun hajinya harus di temani suami atau mahromnya”. Jawaban saya itu tiak lain setelah membaca ada seorang sahabat yang menyatakan keinginannya berperang bersama Rasulullah ketika istrinya hendak pergi haji. Namun, Rasulullah bersabda ,”Pergilah, lalu temanilah istrimu dalam melakukan haji” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan beberapa tabi’it tabi’in berpendapat bahwa perempuan yang tidak memiliki mahrom termasuk orang yang tiak dijadikan mampu oleh Allah. “Wip, biaya haji buat sendiri saja berat, apalagi dengan istri bisa ga terkumpul-kumpul biaya hajinya”. Hohoho…tenang kawan jangan berputus asa, La tahzan innallaha ma’anna. Tak ada permasalahan yang Allah tidak menciptakan jalan keluarnya. Kita hanya perlu pengetahuan dan tekad untuk mencari jaan keuar itu. Demikian juga halnya dengan biaya haji. “Kalo ngutang dari koperasi gimana mas?”, lanjut yang lain. “Tidak boleh”, persis jawaban saya itu seperti jawaban Rasulullah saat ditanya Abdullah bi Aufa ra mengenai seseorang yang belum mampu haji, lalu meminjam uang untuk melaksanakannya. Belum lagi ketidakpastian risiko riba dari pinjaman itu. Kyaa…lantas gimana dong? Kali ini sedikit saya ingin sharing mengenai persiapan biaya, yang telah saya ketahui selama ini. Terdapat berbagai pilihan untuk untuk mepersiapkan biaya haji, diantaranya: 1. Menabung Sendiri Pilihan ini lebih simpel. Menabung. Baik dilakukan dengan tabungan haji atau tabungan yang lain. Hanya saja, dengan tabungan haji kita menjadi lebih disiplin karena tabungan haji tidak bisa diambil kecuali untuk keperluan haji (menurut sepengetahuan saya). Tentu saja pilihan ini adalah awal dari semua pilihan. Hanya saja menabung sangat dipengaruhi oleh berapa kemampuan, kemauan dan kedisiplinan menabung kita. Ada orang yang gajinya 10 juta per bulan, tapi hanya mampu nabung haji 500ribu. Ada juga orang yang gajinya 5 juta dan mau menabung haji 1 juta per bulan. 2. Dana talangan Pilihan ini memanfaatkan dana talangan yang disediakan Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Maaf saya menggunakan istilah LKS bukan bank, karena saya khawatir nanti ada yang membaca bank apa saja. Sehingga bisa memakai bank konvensional yang penuh dosa riba (naudzubillah). Dana talangan lebih berfungsi untuk mendaftar antrian. Kebanyakan orang kesulitan mengumpulkan 25 juta untuk mendaftar antrian. Dengan adanya dana talangan itu, seseorang bisa mendaftarkan antrian dengan ana talangan dari LKS. Waa…berarti ngutang juga dong…tenang ada beberapa penjelasan untuk ini. Dana talangan ini menggunakan sistem upah (ujrah) dan pinjaman tanpa bunga (Qardh). Pinjaman (Qardh) harus dilunasi dalam jangka waktu tertentu sesuai akad, misalnya dua tahun. Adapun keuntungan LKS adalah sejumlah upah (ujrah) yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah pengguna dana talangan. Bedanya apa dengan pinjaman koperasi atau bank? Upah (ujrah) dalam dana talangan tidak boleh didasarkan pada nilai pinjama. Jadi, bukan bunga kan. Sip, cukup sampai disini dulu filosofisnya. Jika ingin membahas lebih detil dasar fatwanya, monggo disedot dari situs MUI, tinggal di-search mengenai Fatwa DSN MUI tentang Pembiayaan Pengurusan Haji LKS, Pembiayaan Ijarah, dan Al Qardh. Secara teknis di LKS, kita tetap perlu menyiapkan uang sebagai initial outlay yang teriri dari Uang Muka, upah LKS (ujrah), kas untuk membuka tabungan dan biaya meterai. Kita membutuhkan uang 25 juta agar bisa didaftarkan antrian. Namun tidak semua uang 25 juta itu ditalangi LKS. Jika kita butuh ana talangan 20 juta berarti kita harus menyerahkan uang muka sebesar 5 juta. Jadi dana talangan ditambah uang muka kita sama dengan biaya DP haji sebesar 25 juta. Selanjutnya tinggal dinegosiasikan dengan LKS berapa nilai upah (ujrah) untuk LKS. Kemudian untuk mengangsur pinjaman kita perlu membuka rekening pada LKS tersebut. Dengan demikian untuk mendapatkan dana talangan sebesar 20 juta maka butuh duit awal kira-kira sebesar 7,5 juta (uang muka 5 juta, asumsi upah/ujrah 2 juta, kas untuk membuka tabungan dan biaya meterai 500 ribu). Jadi untuk Depok jika kita menggunakan dana talangan dapat mendaftar tahun 2011 ini dan insya Allah berangkat haji tahun 2014. Lantas bagaimana jika kita tidak melunasi dalam jangka waktu sesuai akad (misalnya dua tahun)? Ya tentu antrian kita akan diundurkan ke tahun berikutnya. Untuk info lebih lanjut, silakan hubungi LKS terdekat. Hehehe… 3. Investasi Pilihan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan pilihan menabung. Hanya saja instrumen yang digunakan aalah investasi, bukan tabungan. Investasi apa? Menurut saya yang paling mudah dan menguntungkan adalah investasi emas. Misalnya Logam mulia. Pergerakan emas memang menggiurkan. Misalnya saja kita punya uang 10 juta dan prediksinya bisa menabung sebesar 1 juta per bulan. Jika uang 10 juta itu kita belikan emas 25 gram, maka dalam jangka waktu 15 bulan insya Allah nilai emas bisa melebihi 10 juta. Jika menggunakan trend Januari-Juni 2011, nilai emas 25 gram itu sudah naik 1 juta. Investasi emas bisa juga menggunakan dinar. Berdasarkan pengalaman, biaya haji sudah cukup dengan 25 dinar. Untuk masalah harga dinar ini silakan menghubungi saudara saya, Dino Yudha Anindita. Semua pilihan ada konsekuensinya. Misalnya pilihan menabung sendiri, menurut saya pilihan itu sangat cocok untuk orang-orang yang dalam jangka waktu dekat (satu tahun misalnya) bisa mengumpulkan DP haji. Jika terus menerus menabung sendiri dengan nilai tabungan yang rendah, maka risikonya adalah waktu pelaksanaan haji tidak dapat ditargetkan. Pilihan dana talangan memang sangat cocok untuk orang yang sudah memiliki target waktu haji dan didukung kemampuan finansial bulanan sesuai angsuran. Dana talangan menjadi solusi agar kita dapat mengantri lebih cepat. Namun, kita dibebani senilai upah (ujrah) dana talangan tersebut. Pilihan investasi sangat cocok untuk orang yang penghasilannya naik turun. Dengan menabung sampai dengan nilai investasi, kita bisa menerima buah investasi dengan keuntungan berupa tanggungan biaya DP haji yang lebih rendah. Namun risikonya adalah kita membutuhkan tempat yang aman untuk investasi emas itu. Lebih khusus untuk investasi, saya tidak menyarankan investasi dalam bentuk saham, reksadana atau lainnya. Saya melihat perkembangan pasar saham dan reksadana yang fluktuatif seperti saat ini kurang sejuk jika digunakan untuk tujuan persiapan DP haji. Dan tentu saja saya ucapkan selamat bagi pemiliki investasi yang dapat ditransform menjadi DP haji. Banyak orang-orang di kampung saya yang jual tanah untuk pergi haji. Semoga bermanfaat…. Wallahu’alam…  Seorang kawan bertanya kepada saya, “Wip, lebih baik mana, haji dulu apa nikah dulu?”. Saat itu saya menjawab, “Ente nikah dulu aja bro”. Sebenarnya sangat tidak pantas saya memberikan saran seperti itu. Karena permasalahan dari pertanyaan simpel itu mengenai fiqh. Sedangkan saya bukan ahli fiqh. Saya hanya bisa sedikit menggunakan akal untuk menyambung-nyambungkan beberapa kaidah. Pendapat saya itu memang saya tujuan secara khusus untuk kawan saya tadi. Jujur, secara pribadi saya khawatir, jika saran saya salah, bahkan tiak sesuai landasan syar’i. Maka sesampainya di rumah saya membuka kembali beberapa literatur. Pada dasarnya setiap ibadah itu memiliki syarat wajibnya. Demikian pula haji atau nikah. Namun ketika kondisi-kondisi yang sama telah turun maka berlakulah fiqh prioritas. Dalam kondisi yang sama, mengingat haji hukum awalnya adalah fardhu (wajib) sedangkan nikah hukum awalnya adalah sunnah maka haji lebih diprioritaskan dibandingkan nikah. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh prioritas, mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah. Lantas bagaimana jika kondisinya tidak sama? Maka kondisi itu dapat menjadikan pertimbangan untuk mengubah prioritas. Mampu. Satu kata itu merupakan syarat haji maupun nikah. Dalam haji dinyatakan dalam Surat Ali Imran ayat 97 “…Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu…”. Oleh karena dasar saya membuat tulisan ini adalah pertanyaan dari serang kawan yang masih muda, maka saya mengasumsikan semua yang membaca tulisan ini sehat secara fisik (ya iya…orang yang bertanya itu pecinta alam, penggemar naik gunung dan pemanjat tebing/dinding). Syarat mampu dalam naik haji juga tercermin dalam kebutuhan biaya haji, minimal 30 juta per orang untuk haji reguler. Lain halnya dengan ’mampu’ versi syarat kondisional menikah. Dalam redaksional hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra, syarat kondisonal menikah adalah ba’ah. Mampu. Saya pernah menulisnya di blog, bahwa ba’ah itu artinya mampu jima’. Banyak memang yang mempertanyakan “kalo belum punya uang untuk menafkahi bagaimana?”. Itu pun sudah ada solusinya. Pertama, puasa. Puasa dinyatakan dengan jelas dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud itu. Kedua, nekad. Tetap menikah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberikan kecukupan rejeki. Seperti pendapat Husein Tabataba’i (Doktor Cilik penghafal Al Qur’an), “Tidak punya uang tidak bisa dijadikan alasan. Bukankah Allah berfirman,”…Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya…(QS 24:32)”” Dengan demikian mampu haji dan mampu menikah adalah parameter yang berbeda. Kalaupun ditandingkan masalah biaya, biaya menikah lebih murah dibandingkan haji. Asumsikan saja dengan acara sangat sederhana hanya membutuhkan biaya administrasi KUA 500ribu dan walimah dengan seekor kambing (yang gedean dikit) 2,5juta. Berarti hanya 3 juta, alias 10% dari biaya haji minimal. Kondisi ini selaras dengan kaidah memprioritaskan persoalan yang ringan dan mudah atas persoalan yang berat dan sulit. Bagi saya pribadi, ketika telah menikah dan telah menyempurnakan separuh agama melaui pernikahan, maka ibadah haji akan lebih indah rasanya.”Barang siapa yang telah dianugerahi istri salehah, maka Allah SWT telah menolongnya dalam menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah untuk menempurnakan separuh yang lain (HR. Thabrani dan Hakim)”. Apalagi membaca iming-iming dari Rasulullah SAW. bahwa “Shalat dua rekaat yang didirikan oleh orang yang sudah menikah lebih baik dari shalat malam dan berpuasa disiang harinya yang dilakukan oleh seorang lelaki bujangan". Kalo udah kaya gitu, apalagi hajinya orang yang suah menikah yak, kyaa…ga kukuuuu…. Sebagai akhiran dari coretan ini, saya sampaikan pendapat Syaikh Sayyid Sabiq alam kitab Fiqh Sunnah. “Jika seseorang , merasa perlu untuk menikah dan dikhawatirkan akan terjerumus kepada perzinaan, maka ia diwajibkan untuk mendahulukan pernikahan daripada kewajiban ibadah haji. Tetapi jika kekhawatiran itu tidak terjadi, maka ibadah haji lebih utama”. Dengan pendekatan bahasa Indonesia gaya selingkung (BPK banget ini), kata ‘dikhawatirkan’ itu menunjukkan kalimat pasif, artinya ‘seseorang’ itu menjadi objek. Dengan kata lain, jika ada orang lain yang mengkhawatirkan ‘seseorang’ itu bisa terjerumus dalam perzinaan, maka ‘seseorang’ itu perlu mempertimbangkan untuk menikah. So…pesan khusus untuk kawan saya itu, menikah lah dulu kawan… Wallahu ‘alam…. sumber gambar 27. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus[984] yang datang dari segenap penjuru yang jauh, 28. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Noted: [984] Unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji. [985] Hari yang ditentukan ialah hari raya haji dan hari tasyriq, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. [986] yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri. Ingatan saya melayang ke dimensi waktu satu atau dua tahun yang lalu. Saya bertemu dengan seorang kawan, Ari begitu dia dipanggil, yang membangkitkan semangat haji saya. Dengan riangnya kawan saya ini bergurau, “Bener kan Wip, jangan sampai haji itu menjadi rukun Islam yang ke tujuh, setelah rumah dan mobil”. Kyaa…saat itu kami berdua ngakak. Saya sendiri tidak mengambil makna gurauan itu begitu adanya. Karena mencerna gurauan itu apa adanya akan menimbulkan perdebatan yang menghabiskan potensi. Capek jadinya. Namun, (ups…ini masih terpengaruh gaya penulisan selingkung, kata ‘namun’ selalu di awal kalimat)…saya lebih suka mengambil semangat dari gurauan itu. Benar, semangat menunaikan ibadah haji. Ibadah yang sangat utama. Karena pahalanya tidak lain adalah surga. Bahkan tidak sedikit balasan ibadah haji di dunia. Saya tidak pernah menjumpai orang yang pulang dari ibadah haji lantas jatuh miskin atau terhina hidupnya. Ini adalah kenyataan yang saya ketahui. Bukan cerita sinetron yang mengada-ada seenak imajinasi sutradara yang sering menceritakan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan. Hati-hati dengan sinetron seperti itu, karena bisa menyesatkan dan membawa kita pada kekafiran. Betapa tidak, Allah telah menjanjikan melalui lisan Rasul-Nya “(Pahala) biaya haji seperti (pahala) biaya berjihad di jalan Allah, yaitu satu dirham dilipatgandakan hingga 700 kali lipat” (HR.Ahmad, Kitab Fiqh Sunnah, jilid 2 hal.180). Sungguh investasi yang sangat menguntungkan. High risk, high return. Begitu aksioma manajemen keuangan yang menurut saya berlaku pula untuk pahala haji. Jika kita menginginkan balasan investasi yang menguntungkan dari ibadah haji, maka kita juga harus mempersiapkan biaya, ilmu dan raganya. Setidaknya itulah urutan action plan saya. Segera direncanakan dan segera direalisasikan. Tak salah Rasulullah menuntunkan sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas ra. “Barang siapa yang ingin melakukan haji, maka bersegeralah untuk melakukannya; karena bisa jadi seseorang akan sakit, sebuah kendaraan akan hilang, atau kebutuhan lain akan bermunculan”. Termasuk dalam barrier menyegerakan ibadah haji adalah daftar antrian haji. Alhamdulillah saya bersyukur tinggal di Depok, yang antrian kuota hajinya 3 tahun. Dan sepertinya saudara-saudara yang di Kabupaten Bogor lebih bersyukur lagi, karena info yang saya dapat hanya perlu waktu 2 tahun antrian. Coba saja saudara-saudara kita di Jawa Timur, di Trenggalek misalnya harus ngantri 9 tahun. Artinya jika kita daftar di Jawa Timur pada tahun ini, maka kita baru berangkat tahun 2020 nanti. Bismillah, saya akan daftar tahun ini dan insya Allah akan berangkat pada tahun 2014. Informasi tersebut memang hanya untuk haji reguler, bukan haji plus. Namun terdapat kebaikan haji reguler dibanding haji plus. Haji reguler lebih lama di Mekah/Madinah dibanding haji plus. Ini adalah keuntungan yang paling utama menurut saya. Memang ada kelemahannya misalnya penginapan yang lebih jauh dari Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Selain itu, dari segi biaya bagi saya yang terjangkau terlebih dahulu adalah haji reguler. Cukup dengan uang 25 juta per orang kita bisa mulai antrian. Nanti pada tahun pemberangkatan kita harus melunasi 5 juta lagi. Jadi kita hanya butuh 30 juta untuk berangkat melaksanakan kewajiban haji. Jika haji plus tentu harganya lebih mahal. Saya tidak mengupdate harga untuk haji plus. Info terakhir yang saya dapat dari salah berapa (bukan hanya salah satu) biro perjalanan haji, calon haji plus butuh biaya sekitar 80 juta. Tentu saja sebanding dengan fasilitasnya, misalnya penginapan yg sangat dekat dengan Masjiil Haram. Bahkan kata dosen pembimbing skripsi saya (Bpk. Muhtar Yahya, semoga Allah memuliakannya) beliau keluar penginapan sudah di depan pintu Masjiil Haram. Artinya sangat mudah untuk mendapatkan keutamaan sholat fardhu setiap waktu di Masjidil Haram. Namun demikian kelemahan haji plus adalah waktunya yang lebih singkat dibanding haji reguler. Lantas mana yang saya pilih? Bismillah saya memilih haji reguler. Saya memiliki beberapa alasan untuk menetapkan pilihan itu. Saya percaya diri karena masih muda maka insya Allah secara fisik mampu mengejar keutamaan ibadah fisik di sana. Memang risiko penginapan yang jauh harus disiasati. Seperti pengalaman Bapak dan Ibu saya (semoga Allah memberinya surga), beliau membawa uang saku real wahid (mata uang arab satuan) sangat banyak dari Indonesia. Sehingga setiap kali naik angkot uang receh sudah siap sedia. Mengapa real wahid perlu disiapkan jauh hari dari Indonesia? Karena untuk mendapatkan uang recehan ini agak sulit an jumlahnya terbatas. Info dari teman kantor (haiyah…eselon 3 kok ya dibilang teman), sebenarnya banyak money changer di Arab dengan nilai kurs yang kompetitif untuk menukar rupiah dengan real. Namun, beliau kurang tahu informasi ketersediaan recehan real wahid. Selain itu tantangan penginapan yang agak jauh dari Masjidil Haram, tetap memiliki keutamaan. Tak kuasa saya membayangkan betapa banyak kebaikan yang Allah berikan dan keburukan yang Allah hapus pada setiap langkah kaki saya nanti di sana. Memang Islam itu indah, selalu ada hadiah menunggu ibadah (pahala menunggu ibadah maksudnya). Semoga action plan ini berjalan lancar…Insya Allah… 48. Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. 49. Mereka berkata: "Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, Kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar". 50. Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. 51. Maka perhatikanlah betapa Sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. 52. Maka Itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang Mengetahui. 53. Dan Telah kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. Ini adalah takdir Allah, yg menggerakkan jemari an pikiran saya untuk merenungi makna Surat An Naml ayat 48-53 itu. Ketika Allah mengabadikan kisah Kaum Tsamud jauh dalam benak saya mengkhawatirkan kejadiannya paa negeri ini. Saya merasakan betapa kisah kaum Tsamud yang diwakili oleh Sembilan orang itu merencanakan makar kepada Allah kini dekat rasanya dengan kehidupan saya. Dahulu, ketika Rasulullah SAW ‘gembruguh’ dibalik selimutnya, merasakan kegalauan atas kejahiliyahan umatnya, ditambah peristiwa di dalam gua yang begitu berat bagi seorang manusia, Allah justru menghujamkan azzam dalam hati Rasulullah SAW. Dalam konteks kekinian, peristiwa turunnya wahyu yang kedua itu bagi umatnya (yang senantiasa memiliki niat berjuang di jalan dakwah) adalah seruan untuk bangkit. Seolah Allah berkata kepada para pejuang dakwah, apakah kamu kira hari ini masih malam sehingga kamu masih nyenyak tidur di dalam selimutmu itu? Apakah kamu akan diam saja melihat berbagai kebathilan an kejahiliyahan di sekitarmu? Apakah kamu rela orang-orang yang lemah akan terus terdholimi? Apakah kamu tidak bergerak ketika ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat sedang merusak tatanan kehidupan? Maka BANGUN! Dan berilah peringatan! Perkembangan selanjutnya dalam sirah nabawiyah, betapa berat misi Rasulullah ini dalam member peringatan. Hingga akhirnya Rasulullah harus berhijrah demi menegakkan agama. Makna hijrah ini pula yang menunjukkan kita, umat Rasulullah, setiap orang yang ada setitik keimanan dalam kalbunya, umat terbaik yang Allah ciptakan di muka bumi ini agar berhijrah demi menegakkan agama. Berhijrah untuk meninggalkan segala bentuk kebathilan menuju kebenaran (minal bathil ilal haq) Ketika seorang pembawa perubahan diberikan wasiat untuk membedakan kebenaran dan kebathilan sehingga dia mampu mengarahkan perbaikan dari kebathilan menuju kebenaran, maka dia harus siap dengan konsekuensi pahitnya. Demikian pelajaran yang dapat kita peroleh dari kisah Abu Dzar Al Ghifari. Suatu ketika shahabat Rasul ini mendapatkan beberapa wasiat kebenaran dari Rasulullah. Diantara beberapa wasiat itu, adalah komitmen yang nanti akan membawa keteguhan dalam amal perbuatan untuk senantiasa mengatakan ebenaran meskipun pahit akibatnya (qullalhaq wainkana murron). Komitmen inilah yang seharusnya terpatri dalam setiap umat Islam. Apalagi ketika dia mendapatkan amanah sebagai waliyyul hisbah (pemeriksa). Berat konsekuensinya ketika kebenaran yang dia katakan dapat berdampak tercorengnya sebuah citra. Sebuah pencitraan yang kini sedang marak dipertahankan sebagaimana mempertahankan kekuasaan dan kedholiman hakiki. Dalam kondisi seperti itu, waliyyul hisbah memiliki risiko untuk tetap menjadi ‘Abu Dzar Al Ghifari baru’, tetap komit dengan kebenaran, tanpa takut tercorengnya citra, intimidasi, ketakutan kehilangan kepercayaan dari rakyat, dan apapun konsekuensi lainnya. Karena ketika kebenaran dan kejujuran yang berbicara, sepahit apapun konsekuensinya akan indah pamungkasnya. Namun sebaliknya ketika waliyyul hisbah mundur dari komitmen itu, lebih mempertimbangkan pencitraan dan bukan kebenaran hasil muhasabah, maka perbaikan atas muhasabah tersebut hanyalah semu. Bahkan apabila ditujukan hanya semata-mata untuk membohongi kebenaran itu sendiri, saya sangat khawatir ini adalah salah satu bentuk makar. Makar yang dalam surat An Naml diatas digambarkan tidak direncanakan oleh orang banyak, tapi hanya sembilan orang. Sembilan orang saja yang merencanakan makar kepada Allah, makar dengan menyembunyikan kebenaran, akan tetapi konsekuensi berikutnya yang sangat berat. Luar biasa berat. Karena Allah akan membinasakan tidak hanya mereka yang bersembilan itu. Tapi seluruh kaumnya pun terkena dampak makar yang mereka rencanakan. Ini sungguh ancaman yang maha dahsyat. Dan diakhir renungan ini, saya berdoa, semoga Allah mengelompokkan saya dan orang-orang yang senantiasa berjuang demi tegaknya kebenaran dan demi berdirinya nilai agama ini (iqamatud diin) dalam kelompok orang-orang yang beriman, orang-orang yang senantiasa bertakwa, sehingga terhindar dari balasan maker yang lebih mengerikan. Amiin *diposting juga di Note FB  Aku teringat sebuah masa, ketika seorang anak muda mengembara meninggalkan pelukan orang tuanya. Kurang lebih 9 tahun lalu. Dia menginjakkan kakinya di atas tanah Jurang Mangu untuk memulai fase kehidupannya yang lain. Hari demi hari membawanya menjumpai ujian-ujian dengan kecemasan. Dan kecemasan yang paling membuatnya tidak tenang adalah ketika harus meninggalkan kampusnya karena Drop Out. Bayang-bayang kecemasan itu selalu menghantui mahasiswa-mahasiswa kala itu bahkan disetiap semesternyya. Semester pertama ada yang buru-buru meninggalkan kampusnya. Semester kedua menyusul beberapa orang lainnya. Semester ketiga, sebuah masa yang begitu banyak memisahkan kebersamaan anak muda itu dan teman-temannya. Rekor! Begitu ungkapan masa itu.
Jauh dari tempat anak muda itu berada, ada rumah yang hampir setiap hari mendengar keluh kesahnya. Bapaknya selalu memberikan semangat padanya. Ibunya yang sering turut lemas ketika mendengar ceritanya melepas teman-temannya yang 'lulus' mendahuluinya. Ibunya yang mendoakan siang dan malam, dalam sujudnya, doa setelah sholatnya, qiyamullailnya, tak lepas dari doa yang mengharapkan anak muda itu tetap giras dan terhindar dari Drop Out. Ada juga neneknya yang menerima bagian keprihatinan demi anak muda itu. Seorang nenek yang tak kenal lelah berpuasa agar setiap kali menjelang berbuka ia mendapatkan waktu yang mustajabah untuk berdoa. Dan mendoakan anak muda itu agar terhindar dari Drop Out dan berhasil lulus dengan baik. Anak muda itu tidak akan pernah melupakannya. Tiga orang yang begitu dekat, menerima bagian kecemasannya, dua diantaranya adalah perempuan. Dan empat tahun silam, sang nenek telah mendahuluinya setelah anak muda itu lepas dari kecemasan Drop Out. Nenek yang luar biasa.
Selanjutnya dalam rentang waktu dan cerita yang berbeda, ada kecemasan pada para pecinta bola Indonesia. Kecemasan yang sebenarnya lebih mengharapkan kemenangan dalam pertandingan Tim Nasional Indonesia. Ini sangat dimaklumi karena telah sangat lama negeri ini tidak mencicipi gelar juara sepak bola diajang apapun. Hingga datang secercah harapan ketika Timnas berlaga sempurna tanpa terkalahkan, tanpa ada yang mengimbangi dan meraih angka maksimal dalam Piala AFF 2010. Keberhasilan itu tak lepas dari permainan indah dari seniman bola Timnas. Dan tentu saja, berkah yang Allah berikan.
Diantara keberhasilan Timnas melaju ke Final dengan sempurna, ada cerita-cerita perempuan dibalik kesuksesan. Eva Siregar misalnya. Pendamping hidup Sang Pembobol gawang Neil Etherige, benteng terakhir Tim Filipina. Istri Cristian "El Loco" Mustafa Habibie Gonzales. Penyerang Timnas yang namanya digadang-gadang setelah membawa Timnas melaju ke Final dengan dua golnya ke gawang Filipina. Juga pencetak gol yang membangkitkan moral Timnas ketika tertinggal 0-1 dari Malaysia pada fase penyisihan Grup. Keberhasilan El Loco, tak lepas dari peran seorang perempuan. Eva Siregar yang terus mendukung El Loco. Dia pula yang mengajak shalat tahajud dan mendoakan suaminya agar bisa tampil bagus dan memberikan kemenangan untuk Indonesia.
Muhammad "Markus" Haris Maulana, begitu nama indah yang mengganti nama lahirnya Markus Horison Ririnha sejak keputusan hijrahnya pada Agustus 2009. Markus adalah benteng terakhir Timnas yang hingga saat ini mampu mejaga gawang Timnas hingga hanya kebobolan 2 gol. Perannya pun tak lepas dari seorang perempuan, yaitu istrinya, Kiki Amalia. Beberapa media mengabarkan bahwa istri Markus berpuasa dan berdoa agar penampilan suaminya tetap terjaga, terhindar dari kesalahan-kesalahan ketika bermain, terhindar dari cedera demi kemenangan Timnas Indonesia.
Ahmad Bustomi pun meninggalkan cerita peran perempuan dalam kesuksesan. Sarmiati, seorang ibu yang mendidik Ahmad Bustomi sampai kapanpun. Beliau menceritakan bagaimana pengorbanannya dengan menjual perhiasan agar anaknya, Bustomi kecil, bisa membeli sepatu bola. Pengorbanan itu pula yang membawa keberkahan-semoga Allah senantiasa melimpahkan kebahagiaan kepada para ibu-yang dinikmati Bustomi, bahkan seluruh pecinta bola di Indonesia.
Tak sulit rasanya untuk menyimpulkan...bahwa memang ada peran perempuan dibalik kesuksesan. Semoga peran ini tak lekan zaman dan terus membawa kebaikan dan keberkahan. Amin
sumber gambar istriku...tak perlu lagi aku tuliskan bahwa "orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit GILA...(2:275)". Asy Syaikh Sayyid Quthb menambahkan dalam terjemah dasar hidup ini bahwa pernyataan itu adalah ancaman kejiwaan untuk menakut-nakuti perasaan para rentenir, menggoncangkan mereka dengan goncangan keras yang sekiranya dapat membebaskan mereka dari kebiasaan dalam sistem perekonomiannya, dan dari kerakusan mereka untuk mendapatkan bunga uangnya. Bahkan tak berhenti sampai disitu ancaman bencana riba. Istriku...inilah dosa besar setelah kemusyrikan yg dinyatakan secara jelas di dalam Panduan Hidup kita. Ancaman dan dosa besar apalagi yang mendatangkan perang dari Allah dan Rasul-Nya? jawabnya jelas...bencana riba. Maka jauhilah bencana itu...yaa istriku.
Istriku...tidak berlebihan kiranya jika aku katakan bahwa pangkal pokok permasalahan yang ada saat ini adalah bencana riba. Bencana yang disebut Asy Syaikh Sayyid Quthb sebagai bencana ekonomi yang tumbuh. Tetapi dia tidak tumbuh dengan teratur dan wajar yang kebaikannya membawa keberkahan kepada umat manusia secara keseluruhan. Naun jauh dari itu, tumbuhnya miring dan cenderung ke cengkeraman para pemilik modal dan rentenir yang bersembunyi dibalik kantor-kantor besar dan bank-bank. Ungkapan Asy Syaikh Sayyid Quthb itu adalah kenyataan...ya istriku. Bahkan keberadaannya mengepung kehidupan kita. Tentu kamu melihat sendiri, cintaku. Ketika kita melintasi jalan menuju stasiun, berapa banyak motor-motor berjubel di sebuah kantor lembaga keuangan hanya untuk mengantri kredit. Ketika aku turun dari motor sebelum kau cium tanganku, masuk pesan singkat yang menawarkan kerjasama mencari bencana riba dalam bentuk kredit tanpa agunan dengan menghubungi nomor telepon tertentu. Setelah kau cium tanganku dan bergegas menuju loket, aku disambut sales yang menawarkan pinjaman dana pendidikan melalui brosur-brosur yang menarik. Ketika aku masuk ke dalam KRL, banyak orang membaca koran. Masih memberitakan bencana riba yang justru bukan mencegah atau mengobatinya namun justru menyuburkannya. Lembaga-lembaga internasional macam IMF, World Bank, dan lembaga kapitalis materialis sibuk mencekoki masyarakat dan petinggi negeri ini dengan kotoran riba. Hingga KRL melintasi Stasiun Gondangdia, terlihat dari sana kedung tinggi dan indah milik Bank Indonesia. Tempat yang didalamnya dicatat dan dibahas Special Drawing Right, sebuah kesepakatan ribawi dengan IMF yang jumlahnya tak terkira besarnya. Lantas apakah aku akan disalahkan ketika bersuara lantang bahwa penyebab kemiskinan negeri ini dan carut marut kehidupannya, Bank Indonesia memiliki andil besar dalam kerusakan. Karena dialah yang turut menyuburkan bencana riba ini. Ketika aku turun di stasiun Juanda disambut pula laksana melalui karpet merah dengan penjaja-penjaja penawaran kredit perumahan ribawi yang mengiming-imingi bunga rendah. Istriku...perlu aku tegaskan lagi tak peduli besar atau pun kecil, yang namanya riba adalah sama saja. Sama-sama menjerumuskan kita dalam kenistaan. Dan ketika aku masuk dalam sebuah Lembaga besar di negeri ini, ada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang di Kementerian Keuangan. Di tempat itu aku menyaksikan bagaimana Surat Utang Negara (SUN) dikembangkan. Negara menebar hutang dengan bahasa "menjual instrumen moneter dan fiskal". Istriku...janganlah kau terjebak dengan bahasa pasaran seperti itu. Jangan sekali-kali kamu mendekati ORI hanya untuk mendapatkan keuntungan dari bunganya. Apakah aku juga akan disalahkan ketika menyatakan bahwa DJPU adalah sumber maksiat, penyubur riba, penantang perang dengan Allah dan Rasul-Nya, penyeru dalam penyakit gila, penebar dosa laksana menzinai ibunya sendiri. Walau ada sititik harapan di instansi itu. Yaitu dikembangkannya Surat Berharga Syariah Negara (SUKUK). Namun memang saat ini keberadaanya masih jauh dibawah bayang-bayang dominasi SUN yang ribawi. Sudah cukup kita melihat bencana demi bencana riba mengurung kita...istriku. Tapi tetaplah kokoh, tetaplah tegar untuk tidak menyentuh dan mendekatinya sekecil apapun. Bukankah Rasulullah dengan tegas menyatakan pemakan riba(bisa jadi pemberi pinjaman, pemilik SUN, rentenir, dsb), pemberi riba (bisa jadi peminjam, penerbit SUN, dsb), dua orang saksi, dan penulisnya adalah sama saja! Apakah aku akan disalahkanlah, dicaci maki atas kebaikan yang aku tulis? Maka aku yakin...istriku, kau akan tetap menguatkanku sebagaimana Allah dan Rasulnya meridhoi jalan kita untuk tetap berperang melawan riba dengan menyuburkan zakat dan sedekah. Istriku...diakhir nasehat ini, marilah kita memohon ampun kepada Allah, beristighfar atas segala dosa dan kebodohan kita. Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah...Sungguh hanya Allah pemilik ilmu.
Sore ini saia bertanya-tanya, apakah saat ini saia berada dalam kehidupan yang serba sensitif? Jauh dari jangkauan saia para pembesar sedang adu sensitivitas kekuasaan. Saia tidak berada pada pendapat mendukung salah satunya, karena bukan masalah itu yang ingin saia tulis di sini. Yang ingin saia tulis hanyalah sebuah pemandangan sensitif yang saia alami pagi ini.
Pemandangan ini saia awali dari introspeksi diri saia sendiri. Pagi ini sensitivitas saia muncul ketika tiba-tiba ada motor ngebut yang menyerobot jalan lurus motor saia. Padahal hujan mulai turun, jalan mulai basah, ditambah kondisi jalan yang agak macet. Adrenalin saia berdesir dan saia pun berakselerasi mengejar penyalip saia. Hingga pas disamping penyalip itu, saia "memaksa" dia untuk minggir dari jalan persis sama dia "memaksa" saia ngerem mendadak karena serobotannya. Egois. Benar saia mengakui keegoisan itu. Hingga akhirnya istri saia mengingatkan, "Abi, kalo dia jatuh kan kasihan". Astaghfirullah.
Di masa selanjutnya jarum jam terus mengejar jadual keberangkatan KRL dari Stasiun Depok Lama. Lagi-lagi saia melihat pemandangan sensitif. Orang-orang yang berdesakan antri tiket KRL. Dan setelah mendapatkan tiket dia lantas berbalik hingga saling senggol dengan pengantri lainnya. "Pelan-pelan aja knapa sih!!", bentak salah seorang pengantri. Entah kesenggol apanya saia tak tahu. Astaghfirullah.
Masih berlanjut saat hendak menyeberangi rel. Dalam kondisi hujan hampir setiap orang mempercepat langkahnya. Hingga saling salip pun terjadi pula saat hendak menyeberangi rel. Entah mendengar atau tidak, peduli atau tidak mereka pada pengumuman yang memberitaukan bahwa jalur 2 dari arah Bogor ada KRL Ekonomi yang hendak melintas. Peluit Petugas pun tak kalah sensitif menderit-derit. Tapi toh tetep ada beberapa orang yang "ngeyel" menyeberang. Wal hasil ada suara keras, "Hoei, maksa nyeberang mau cari mati ya!!". Astaghfirullah
Rangkaian kisah sensitif ini belum selesai sampai di sini. Ceritanya masih lanjut di dalam gerbong KRL. Seperti biasa saia tidak berminat dan berniat untuk rebutan tempat duduk. Saia lebih suka tenang, lantas meletakkan backpack saia di atas rak KRL. Hingga tiba-tiba seorang perempuan bercelana jins ketat dan kaos yang agak minim gaya "kamu bisa melihat" tergopoh-gopoh masuk ke dalam gerbong, melipat payungnya yang basah, meletakkannya di lantai lantas menaruh tasnya ke atas rak KRL. Entah apa yang diinginkan perempuan itu. Tiba-tiba saja dia mengambil kembali tasnya dan menjinjing payungnya kemudian buru-buru meninggalkan tempatnya. Namun belum juga melintasi gerbong sebelah, perempuan itu kembali ke tempatnya semula. "Oh...mungkin perempuan ini hendak mencari tempat yang lebih longgar", batin saia begitu. Dia berdiri, mengatur nafasnya, berpegangan handle hingga terlihatlah lengannya yang tak seputih make up wajahnya. Saia lantas memalingkan wajah, entah karena tak ingin tercium aroma ketek-nya atau alasan lain. Apakah saia lagi sensitif? Astaghfirullah.
KRL pun berangkat, meninggalkan Stasiun Depok Lama untuk mengantarkan pelanggannya ke Sudirman-Tanah Abang. Sesampai Stasiun Depok Baru KRL berhenti untuk menjemput pelanggannya yang lain. Sehingga lebih banyak orang di gerbong KRL. Belum juga terlihat teratur nafas perempuan tadi. Dia mengambil payungnya di bawah dan menaruhnya ke atas rak KRL, tepat di atas tasnya. Dan "tes". Setitik air jatuh dan menimpa lengan seorang lelaki yang duduk tepat dibawah rak. "Ck", decak lelaki itu sambil menarik lengannya. "Biasa aja kali!" tandas si perempuan dengan nada sewot. Mulutnya yang tadi lebih banyak mengatur nafas kini manyun ke depan hingga tak ada lagi aura cantik di wajahnya. Astaghfirullah. Sensitif lagi.
Ada apa pagi saia kali ini? Apakah saia mengawalinya dengan sensitif hingga rangkaian peristiwa sensitif lain membuntuti saia? Astaghfirullah....Astaghfirullah...Astaghfirullah... Pagi-pagi di stasiun...orang-orang cerita Barca-Madrid Koran-koran....yg dibahas Barca-Madrid di dalam KRL...masih Barca-Madrid pertama, alhamdulillah saia nonton, jadi ga perlu ikut cerita Barca-Madrid kedua, saia mengumpati diri saia karena Barca-Madrid Karena di deket tempat saia sholat orang-orang ngerumpi Barca-Madrid Rame, saling saut, saling eyel, seolah adu keras suara bahas Barca-Madrid Ada juga yg ngulas Barca-Inter dibanding Barca-Madrid Karena di Inter ada Gelandang Bertahan hebat yg tidak ada di duel Barca-Madrid dan bodohnya saia, Al Fatihah saia berhenti sebentar karena dalam hati saia menggumam "Cambiasso yg ga ada di Barca-Madrid" dan gumaman saia dibenarkan pengerumpi Barca-Madrid saia benar-benar mengumpati diri saia yg sholat saia dipotong Barca-Madrid Astaghfirullah...semua jadi komentator Barca-Madrid Astaghfirullah...saia tergelincir Barca-Madrid Astagfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah... Kami mengucapkan Jazakumullahukhairan jaza kepada para investor yg telah berinvestasi melalui Pembangunan Masjid At Taubah. Semoga Allah membalasnya dengan balasan segala keutamaan infaq, sedekah dan surga. Amin Berikut ini beberpa investor yg bisa kami publish 1. Bapak/Ibu NN Rp500.000
Bismillahhirrohmanirrohim
Saia belum tinggal di Komplek ini ketika rumah ibadah ini didirikan. Jika mendengar ceritanya, luar biasa perjuangan bapak-bapak “assabiqunal awwalun” yang berinisiasi dan memperjuangkan berdirinya rumah ibadah ini. Berikut ini beberapa potongan sejarah berdirinya Masjid At-Taubah, Sektor Gardenia Grand Depok City, RW 07 Kel. Tirtajaya, Kec. Sukmajaya Depok. 
Lokasi Masjid merupakan fasum terluas di Komplek ini. Pada saat pertama kali saia menginjakkan kaki di masjid ini, yang selalu teringat adalah suara aliran air sungai yang membuat kedamaian dan ketenangan. Tepat di samping selatan masjid mengalir Sungai Cikumpa. Sungai itu meliuk seperti huruf “S” mengelilingi fasum tempat masjid ini didirikan.

Peletakan batu pertama, seperti menancapkan ghirah untuk dapat beribadah secara berjama’ah di masjid yang dibangun ini.

Rangka tiang-tiang masjid ini menunjukkan betapa kokohnya struktur bangunan. Hingga kini tiang-tiang penyangga masjid kokoh berdiri. Seolah mencerminkan pendiriannya didasari dengan usaha untuk tetap berjuang menegakkan tiang agama secara berjamaah.

Masjid ini didesain dua lantai. Dan yang membuat bangga adalah keterlibatan seluruh warganya untuk turut membangun masjid. Begitu banyak yang terlibat dalam proses pengecoran Lantai. Berdasarkan cerita Pak Haji Ahmad, salah satu sesepuh masyarakat, keterlibatan banyak warga inilah yang nanti akan menjadi bahan cerita. Sehingga semua bisa bercerita bahwa masing-masing turut menegakkan bangunan masjid.
 
Foto di atas ini menggambarkan transformasi wujud dari satu sudut pandang namun beda waktu. Pada mulanya terlihat bagaimana dinding-dindingnya berdiri. Kemudian foto di sebelah kanannya yang menunjukkan adanya kemajuan dalam pembangunan masjid.

Foto di samping kiri ini diambil dari sisi timur masjid. Masih terlihat jelas tumpukan bambu-bambu material pembangunan masjid. Alhamdulillah sudah ada anak tangga sebagai awal cita-cita pembangunan tahap kedua.
Inilah kondisi terakhir Masjid At-Taubah. Masjid yang begitu dicintai masyarakat disekitarnya. Masjid yang saat ini masih terus disempurnakan bangunannya. Masjid tempat warga beribadah dan menuntut ilmu agama.
Seperti itulah kondisi Masjid At Taubah yang masih terus berbenah. Namun kami memiliki cita-cita yang begitu indah. Membangun tempat ibadah yang menenangkan hati, menenangkan jiwa, menjadi tempat investasi akherat, juga tempat mengharap bantuan Allah Yang Maha Kuasa. Berikut ini adalah gambar-gambar desain Masjid At Taubah.
Tampak Dari Depan (Sebelah Barat)
Tampak dari Belakang (Sebelah Timur) Tampak Samping (Sebelah Selatan)
Selanjutnya dalam rangka kelanjutan Pembangunan Masjid At Taubah tahap kedua, telah dibuka kesempatan seluas-luasnya untuk investasi melalui Masjid At Taubah. Proses investasi tersebut sangatlah mudah dan insya Allah sangat berguna. Alhamdulillah sejak hari ini sudah dibuatkan Rekening Khusus untuk Dana Pembangunan Masjid At Taubah. Namun demikian Rekening tersebut masih atas nama pribadi, karena jika diatasnamakan Masjid harus dibuat Yayasan terlebih dahulu. Sedangkan hal itu tentu butuh waktu lebih banyak lagi. No Rekening 7650393761 an Wirawan Purwa Yuwana BCA Depok Asri Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan yang yang berminat untuk investasi akherat dan mengharap balasan dari Allah kami siap menerima amanah untuk menyalurkan investasi Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan untuk membangun Masjid At Taubah. Untuk selanjutnya Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan yang telah berinfaq, sedekah, dan berinvestasi melalui transfer ke Rekening tersebut dimohon dengan hormat mengkonfirmasi melalui SMS atau telepon. Nomor-nomor yang bisa dihubungi: Pak Yono 08568598487 (Bendahara Pembangunan Masjid At Taubah) Pak Setiabudi 081383488857 (Sekretaris Pembangunan Masjid At Taubah) Pak H Ahmad 08129255373 (Ketua Pembangunan Masjid At Taubah) Pak Wipy 08128478603/021-95512006 (Ketua DKM At Taubah) Semoga bermanfaat bagi Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan yang hendak menyalurkan tabungan akheratnya, karena salah satu dari tiga amal yang tidak terputus setelah kita meninggal adalah amal jariyah. Semoga Investasi, Infaq dan Sedekah Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan dalam rangka Pembangunan Masjid At Taubah menjadi tabungan jalan ke Surga. Semoga bermanfaat pula bagi Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan yang hendak berinvestasi dengan tingkat pengembalian (Rate of Return) yang sangat tinggi. Allah menjanjikan dalam Surat Al An'am ayat 160 bahwa bagi hambanya yang membawa amal kebaikan maka Allah akan memberi balasan dengan Rate of Return sebesar 1000% atau 10 kali lipat. Bahkan dalam AlQur'an Surat Al Baqarah ayat 261 Allah menjanjikan Rate of Return sebesar 70.000% atau 700 kali lipat bagi yang menafkahkan di jalan Allah. Amin Al An’am ayat 160 menyatakan “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” Di Al Baqarah ayat 261 Allah menyatakan "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." Dalam terjemah Al Qur’an ditambahkan bahwa pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain Selain itu bermanfaat pula bagi kami, Warga Gardenia untuk menjalankan ibadah sehingga nilai pahala ibadah kami pun mengalir pula kepada Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan para investor akherat tanpa berkurang sedikit pun.
Tiada hari tanpa berinvestasi Tiada saat tanpa berinfak Tiada masa tanpa bersedekah Jazakumullahu khairan katsiran
Jika KTP kita ganti, maka mau tidak mau SIM kita pun harus pindah pula. Caranya adalah dengan mutasi SIM atau membuat SIM baru. Saia memilih mutasi SIM karena lebih hemat, tidak perlu ujian lagi, lebih cepat, dan tak perlu khawatir dengan tawaran yang tidak-tidak. Untuk memutasi SIM, maka SIM yang lama harus dicabut dulu di Polres tempat SIM terdaftar. Setelah dicabut baru diurus mutasinya ke Polres domisili sesuai KTP. Alhamdulillah pada saat mudik kemarin bisa mencabut berkas SIM untuk dimutasi ke Kota Depok. Syaratnya mudah, hanya menyampaikan fotokopi SIM dan KTP rangkap 3. Alhamdulillah lagi saia bertemu teman SMP saia di Polres Trenggalek. Lantas saia menanyakan mekanisme pencabutan berkas untuk mutasi SIM. Saia malah diantar ke petugasnya langsung. Oleh karena saia datang sudah siang hari, maka berkas saia baru bisa saia ambil besok harinya. Keesokan harinya berkas mutasi SIM saia sudah jadi. Dan yang perlu jadi catatan adalah....TANPA BIAYA.
Hari ini saia ke Polres Kota Depok untuk memutasi SIM saia dari Trenggalek, Jatim ke Kota Depok. Masuk Polres Kota Depok di Jalan Margonda, saia mencari-cari tulisan SIM. Ternyata tempat permohonan SIM ada di belakang. Saia menemui Pak Polisi yang di resepsionis dan meminta penjelasan proses Mutasi SIM.
Pertama, saia harus tes kesehatan. Tempatnya tidak jauh dari Polres Kota Depok. Tepatnya di Klinik THT yang terletak disamping kiri Bank Jabar-Banten (sebelah kiri Polres). Disini saia diminta fotokopi KTP. Oleh karena saia tidak bawa cadangan fotokopi KTP, maka saia fotokopi dulu di tempat itu. Petugas fotokopi pasti sudah sangat hafal dengan kebutuhan fotokopi KTP yang dibutuhkan untuk mengurus SIM. Saia diberi 4 fotokopian KTP. Harganya 2000. Beh...sekali lagi saia mendapat pelajaran bahwa kesempatan atau waktu itu mahal harganya. Di tempat ini hanya butuh 1 fotokopian KTP dan membayar biaya tes kesehatan Rp.30.000. Di dalam ruangan saia ditensi (alhamdulillah normal 120/80), lantas tes penglihatan dan buta warna. Tidak lama, mungkin hanya 3 menit saia mendapatkan 2 surat kesehatan untuk SIM A dan SIM C.
Kedua, membayar Biaya Perpanjangan SIM ke Loket Bank di Polres. Setelah kembali ke tempat Permohonan SIM di Polres, tak susah saia mendapatkan Loket Bank. Di atas loket itu tertulis, Permohonan Baru SIM A = Rp120.000, SIM C = Rp100.000, Perpanjangan SIM A = Rp80.000, SIM C = Rp75.000. Praktis saia hanya mengeluarkan uang Rp155.000 di sini untuk mutasi SIM. Saia diberi dua buah formulir permohonan SIM, masing-masing untuk SIM A dan SIM C. Formulir itu harus diisi benar sesuai dengan kartu identitas dan menggunakan huruf kapital.
Ketiga, membayar Asuransi Kecelakaan Diri Pengemudi (AKDP). Di Loket Asuransi ini tertulis Rp30.000. Berarti saia harus mengeluarkan Rp60.000 untuk SIM A dan SIM C saia. Dan yang saia ingat sampai selesai mengurus mutasi SIM ini, di Loket inilah yang petugasnya paling ramah.
Keempat, menyerahkan semua berkas ke Loket Pendaftaran. Berkas yang saia maksud terdiri atas berkas pencabutan SIM dari Polres Trenggalek (SIM lama saia), surat kesehatan, bukti pembayaran Biaya Perpanjangan SIM dari Bank, dan Formulir permohonan SIM. Setelah itu tinggal menunggu panggilan untuk foto.
Kelima, foto dan menerima SIM.
Dari kelima proses itu, yang paling lama adalah mengantri untuk foto SIM. Disela-sela kesempatan foto itu, saia bertanya pada seorang pemohon SIM. "Permohonan SIM Baru apa perpanjangan, Mbak?". "Permohonan Baru, Pak", jawabnya. Saia lantas iseng bertanya, "Mengurus sendiri apa ada yang ngurusin, Mbak?". "Ada yang ngurusin kok. Tapi ya lama juga ngantrinya", jawabnya. "Kalo diurusin begitu bayar berapa Mbak?" "350.000", dingin sekali jawabnya "Itu SIM A apa SIM C" "SIM C", jawabnya, dan saia pun terdiam.
Belum lagi saia memulai kembali pembicaraan, saia sudah dipanggil untuk foto. Saia foto dua kali, untuk SIM C dan untuk SIM A. Dan tak lama kemudian SIM A dan C saia sudah jadi. Alhamdulillah, dan saia pun berkemas.
Ketika memasukkan dokumen-dokumen saia ke dalam tas, ada seorang Bapak melongok, "SIM A apa SIM C dik?", tanyanya. "SIM A dan SIM C pak" "Baru apa Perpanjangan?", tanyanya lagi. "Perpanjangan pak. Mutasi dari Jawa Timur ke sini" "Kalo perpanjangan begitu mudah dan cepat ya", katanya "Bapak mencari baru? apa perpanjangan juga?", tanya saia 'sok' polos "Saya mengantar adik saia mencari SIM baru", begitu katanya "Habis berapa pak?" "Karena pake jalur cepat, ini tadi 300.000 untuk SIM C", katanya "Kalo SIM A kira-kira berapa ya pak?", tanya saia kembali 'sok' polos "Lho kan adik sudah punya SIM A dan SIM C?", kritis juga nih bapak "Istri saya yang belum punya SIM A pak", cepat, tegas, dan lugas hehehe... "Oh...kalo SIM A ya 400.000 dik. Beda cepek" "Eh...makasih pak, saya pulang dulu", saya pamitan "Mangga dik", jawabnya
Waduh...kok begini ceritanya ya. Ah...segera saia ke parkiran. Hup...melihat seorang bapak berjalan mendekat. Sebelum dia mendekati saia, saia duluan yang mendekatinya. Kembali naluri iseng saia muncul. "Pak, kalo cari SIM A baru kira-kira habis berapa ya?" "Oh...jam segini udah tutup dik. Besok saja ya" katanya "Iya, kalo besok berapa pak?", saia mengejarnya pertanyaan "Ya adik tes dulu ke Klinik, abis itu.....", dia menerangkan seperti kelima proses saia di atas "Kalo pengen cepet pak?" "Oh...itu gampang, sama saia aja. nanti tinggal duduk, nunggu dipanggil foto. Cuma 380.000" "Kalo SIM C berapa pak?", tanya saia lanjut "Beda 10.000. jadinya 370.000. Lha adik ini abis darimana?", hups...tanyanya "Habis ngurus mutasi SIM pak", jawab saia "Lha kok masih tanya biaya ngurus SIM" "Istri saya yg belum punya SIM pak. Kalo saya kan mutasi doang. Jadinya lebih cepat. Makanya yang lain masih nunggu, saya sudah pulang duluan hehe...", tentu dengan nada guyonan. "Ah Sialan. bisa aja kamu nih" "Mari pak, saya pulang dulu", saia pun pamit "Oh...silakan...silakan"
Beh...saia menghela nafas panjang. Padahal kalau kita mau mengurus SIM sendiri, hanya butuh biaya yang terdiri dari: Surat Kesehatan = Rp30.000 SIM A Baru = Rp120.000 SIM C Baru = Rp100.000 SIM A Perpanjang = Rp80.000 SIM C Perpanjang = Rp75.000 Asuransi per SIM = Rp30.000 Ya seperti saia hari ini hanya mengeluarkan uang sebesar Rp245.000 untuk Mutasi SIM A dan SIM C. Saia yakin, Polisi tidak seburuk praktik percaloan itu. Sebagaimana motto pelayanan SIM "Kami memang belum sempurna, tapi Kami berusaha". Hanya saja calo-calo itu yang memberikan iming-iming kemudahan. Dan parahnya, sebagian (enta besar atau kecil) pemohon SIM tergiur dengan kemudahan itu. Padahal mengurus SIM sudah cukup mudah. Ya walaupun mungkin perlu ada yang disempurnakan, misalnya keramahan petugas perlu ditingkatkan.
Majulah terus Kepolisian Republik Indonesia! Setidaknya ini adalah pertanggungjawaban saia sebagai alumni STAN. Selain itu juga pertanggungjawaban saia sebagai eks-panitia Kongres. Dulu sempat masuk ke kepanitiaan kongres. akan tetapi karena harus fokus untuk Masjid AT-Taubah di komplek saia, apalagi menjelang Ramadhan, akhirnya banyak agenda Panitia Kongres yg saia tidak bisa jalankan. Walhasil...saia mengundurkan diri dari kepanitiaan, daripada berdiri di dua tempat tapi tidak bisa maksimal keduanya, atau bahkan menjadi mata rantai yg putus shg yg lain malah ga bisa jalan.
Saia (& banyak kawan lainnya) dapat email dari bang Assue, melalu milist, agar kita membantu publikasi Reuni Akbar dg cara posting di blog atau mengganti profile kita dg poster Reuni Akbar.
Insya Allah saia akan hadir di Reuni Akbar STAN 2010 dengan membawa serta anak dan istri saia. (Semoga besok Sabtu Zein udah fit benar). Semalam Zein badannya panas mpe 39,7 derajat Celcius pengalaman yang lalu..kalo dia panas buka aja bajunya...terus saia taruh diatas tubh saia yg telanjang dada. we share our temperature... tapi semalam agak lama, ga seperti biasanya. akhirnya meluncurlah sirup penurun panas buat Zein. tak berapa lama kemudian memang turun panasnya. abis shubuh panas lagi. we share our temperature again. panasnya agak turun. tapi kali ini dia ga serewel semalam. malah dia ngajak bernyanyi.

ayo lekas sembuh ya sayang...terus makan tomat lagi (oiya...persis saia, sukanya makan tomat)..terus main sama abi...
nah...kalo makan tomat begini kan jadi imut banget
****
eh...bener...saia belum 'save & publish' tulisan ini, dia udah main sendiri. tapi badannya masih tetep anget. yaudah...kalo gitu makan biskuit & minum air putih yg banyak yuuuukkk... belum lama saia membuka komputer jinjing saia. tak lama kemudian terdengar suara teriak-teriak lantang dari luar ruangan. rupanya ada demo di Kementerian Keuangan, di samping gedung Maramis, belakang Bapepam, depan gedung Dhanapala (bener ga sih nama gedungnya?). mereka menyumpah serapahi Kemenkeu sebagai sarang koruptor. dalang koruptor terbesar di negeri ini. mereka juga menuntut Menkeu agar segera menyita aset-aset pengemplang BLBI dan menuntaskan kasus Century. Mereka pun menyatakan jika Menkeu tidak bisa menyelesaikan masalah ini, Menkeu mundur saja. Mengurus uang negara saja tidak bisa, begitu kata mereka.
itu kata mereka...
Namun ada yg menggelitik dalam benak saya dibalik sumpah serapah demonstran. Pertama, saya melihat pelaku demonstrasi. Astaghfirullah, tidak menutup aurat. merokok. setidaknya dua hal itu sudah menghilangkan simpati saia kepada mereka. Kedua, demonstrasi hanya sedikit orang, berdasarkan perkiraan saya, mereka tidak genap dari 100 orang. tapi demonstrasi itu dilengkapi dengan sound system bertumpuk hingga satu bak mobil pick up. "siapa yg membayar biaya sound system itu?", begitu pikir saia. saia pernah demo dengan sedikit personil. tapi sepadan dengan jumlah personilnya, kami hanya naik angkot dan satu buah megaphone. iya, hanya satu megaphone. Ketiga, personil yang berteriak-teriak dan materi yang diteriak-teriakkan. personil yg berteriak-teriak sering bergantian. tapi tidak banyak. sejauh mata saia memandang tidak lebih dari lima orang yg berkoar-koar. itupun tidak dengan bahasa yg lancar. entah gugup atau emang ga ngerti, salah satu orator tampak berpikir lamaa sekali untuk mengertikan 'amnesti'. dan satu lagi yang saia sangat tidak sepakat, mereka mengumpulkan demonstran (yg tampak ogah2an untuk ngumpul di depan gerbang Kemenkeu) dengan meneriakkan yel kira-kira begini "bersama bersatu robohkan pagar depkeu". Apa-apaan ini.
saia benar-benar prihatin dengan mereka ini. tapi apa daya, hanya tulisan ini yg bisa saya buat. tentunya diinringi doa, sebagaimana ini adalah selemah-lemah iman.
Allah, berikan pemahaman dan kesadaran kepada orang-orang yang belum tahu itu Allah, hindarkan mereka dari penyakit gunjing dan menjelek-jelekkan saudara-saudara yang memang bekerja untuk kebaikan dan perbaikan Ya Rahim, berikanlah mereka rejeki yang berkah Ya Rahman, jauhkanlah mereka dari kefakiran sehingga mereka terjauhkan dari kekufuran Ya Allah, mantapkanlah hati mereka untuk memakan apa yang benar-benar menjadi hak mereka dan bukan mengambil keuntungan dengan merugikan lainnya Ya Allah, sungguh Engkau adalah Pengabul Doa. Aamiin....
pagi ini saia dapat SMS dari nomor yang tak ada di phone book saia ( 083899351340), bunyinya begini:
Yth, bpk/ibu maaf mengganggu, kami ada penawaran KREDIT TANPA AGUNAN 5-150 juta. bunga 1,5-1,88%/bulan. Syarat: fotocopy KTP, credit card. INFO; KRISTIN (02195909610) (CALL ONLY)
lantas saia balas:
Makasih bu. Sungguh saya takut jika Allah memerangi saya karena berbuat riba. Semoga kita terhindar dari bencana riba. Amin
tak perlu diperdebatkan, pemberian "pinjaman dengan tujuan mendapatkan imbalan yang ditentukan, maka termasuk riba yang diharamkan dalam syariah" (Al Fiqh Al Iqtishadi Li Amiril Mukminin Uma Ibnu Al Khaththab/Fikih EKonomi Umar bin Al Khathab, halaman 104)
oleh karena itu, hati-hati dengan SMS seperti itu. jangan sampai terjerumus kedalam penyakit riba. agar kita terhindar dari wabah gila dan ancaman diperangi ALlah dan Rasul-Nya. Segala sesuatu pasti ada permulaannya. Dan hari ini adalah permulaan saia mendapatkan amanah berkhutbah di masjid komplek saia. padahal baru kemarin saia buka email jadual khotib. subhanalloh, saia ditaruh di tanggal 2 Juli 2010, 19 Rajab 1431 H. mengumpulkan bahan, lantas menyusun kata-kata. semoga awal ini tidak terlalu buruk. Bismillahirrohmanirrohim....
Khutbah Pertama 1. Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [847] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya. Bapak-bapak dan Saudara-saudara kaum Muslimin sidang jama’ah Jumat, rahimakumullah Dengan penuh ketundukan dan keikhlasan, marilah kita ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul di masjid yang kita cintai ini untuk melaksanakan Shalat Jum’at berjamaah. Shalawat dan salam marilah kita sampaikan kepada qudwah hasanah kita, pembawa risalah suci, dan yang kita nanti-nantikan syafaatnya di hari kiamat nanti, Rasulullah Muhammad SAW. Selanjutnya sebagaimana kewajiban setiap khotib untuk berwasiat dan sebagaiman telah disebutkan pada mukaddimah di atas, “ittaqulloha haqqo tuqotih”, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya takwa, “wala tamutunna illa wa antum muslimun”, dan janganlah kita mati kecuali dalam keadaan Islam. Amin. Ya ibadalloh, kaum muslimin sidang Jumat yang dimuliakan Alloh Dalam sehari semalam kita memiliki kewajiban 17 rokaat untuk menunaikan shalat 5 waktu. Kewajiban sholat inilah nikmat yang Alloh berikan kepada kita. Sholat adalah amal perbuatan yang pertama kali dihisab Alloh, jika baik sholat kita maka baiklah amal-amal kita. Selain itu dengan sholat kita akan mendapatkan pertolongan dari Alloh SWT. Sebagaimana yang dijanjikan Alloh dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 153: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [99] ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Risalah sholat adalah oleh-oleh yang sangat berharga dari Rosulullah Muhammad SAW dalam peristiwa besar yakni Isro’ dan Mi’roj. Isro’ dan mi’roj ini merupakan mukjizat dari Alloh untuk menghibur Nabi Muhammad SAW setelah beliau ditinggal dua orang yang sangat berperan dalam permulaan perjalanan dakwah Rosululloh SAW, yakni paman beliau Abu Tholib dan istri beliau Khadijah ra. Isro dan mi’roj ini merupakan kenyataan perjalanan Rosululloh yang terjadi dalam satu malam. Isro’ dari Masjidil Harom di Mekah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, Palestina. Kemudian dilanjutka mi’roj dari Baitul Maqdis ke tujuh lapis langit dan Sidratul Muntaha. Peristiwa isro’ dan mi’roj ini mendapatkan berbagai tanggapan dari kaum Nabi SAW. Hal ini sesuai dengan kekhawatiran istri beliau, Ummu Hani’, yang hendak mencegah beliau keluar rumah untuk menyapaikan risalah isro’ dan mi’roj. Namun Rosululloh SAW tetap optimis dalam menyampaikan kebenaran peristiwa itu. Ada golongan yang mendustakan peristiwa itu, bahkan ada yang ingkar dan murtad. Golongan ini dipelopori oleh Abu Jahal. Ada pula golongan yang meragukan peristiwa ini. Lantas golongan yang ragu tersebut ada yang menemui Abu Bakar ra dan menceritakan kepada Abu Bakar ra perihal isra’ mi’raj. Dan Abu Bakar termasuk golongan yang meyakini kebenaran peristiwa besar itu. Oleh karena itulah Abu Bakar diberi gelar Ash Shidiq, ‘yang membenarkan’. Begitu besarnya peristiwa ini, Alloh telah mengabadikannya dalam Al-Qur’an Surat Al Isra ayat 1 sebagaimana telah disampaikan khotib pada mukaddimah khutbah. Ya ibadalloh, Surat Al Isra ayat 1 tersebut diawali dengan tasbih kepada Alloh. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa Alloh Maha Kuasa dan menegaskan bahwa sebelum menggambarkan peristiwa besar itu, kita akan memahami bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh. Selanjutnya dinyatakan bahwa Alloh-lah yang menjalankan Muhammad pada malam hari. Kata "asraa" berarti “menjalankan pada malam hari”. Maka dapat diketahui bahwa hanya dengan kekuasaan Alloh peristiwa besar itu terjadi. Ya ibadalloh, ayat tersebut juga menjelaskan bahwa Muhammad SAW yang menjalani isra’ dan mi’roj adalah hamba Alloh SWT. Kata "bi'abdihi" berarti “hamba”. Perlu kita ketahui bahwa sebesar apapun suatu kejadian yang dialami manusia, maka status tertinggi manusia adalah hamba Alloh. Inilah yang membedakan agama kita, Islam yang suci dan tidak mencampuradukkan sifat ubudiah (kehambaan makhluk) dan uluhiah (ketuhanan). Hal ini sangat lain dengan agama Nasrani sepeninggal Nabi Isa as yang mencampur adukkan status makhluk dan kholiq hingga mereka mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah anak tuhan. Ini lah kesesatan yang nyata. Jama’ah jumat yang dimuliakan Alloh. Secara tegas Alloh menyebutkan dua nama masjid dalam Al-Quran, Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Inilah ketetapan dari Alloh yang mejawab serangan dari musuh-musuh Islam. Sebagaimana kita ketahui, beberapa saat yang lalu Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menyatakan bahwa Yerusalem tidak disebutkan dalam Al Quran. Maka kita pun dapat membantah pernyataan ini dengan Al Qur’an. Dengan adanya Masjidil Aqsa, maka sudah cukup bagi kita untuk meyakini bahwa tanah Palestina, dengan ibukota Yerusalem, dan ada masjid suci, Masjid Al Aqsa disana adalah hak umat Islam. Adapun yang telah dilakukan Zionis Israel terhadap Palestina adalah penjajahan, kedholiman, dan pelanggaran hak asasi manusia. Selanjutnya Alloh menjelaskan dalam ayat 4 surat Al Isra’ 4. Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi Ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". Itulah ketetapan bagi bani Israel yang membuat kerusakan dimuka bumi dan akan berkuasa di tanah suci Palestina. Lantas mereka akan memanfaatkan kekuasaannya itu untuk merusak. Maka Alloh akan memberikan kuasa kepada sebagian hamba-hamba-Nya untuk menindas mereka, mengusir mereka, dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya. Ya ibadalloh, Alloh melanjutkan gambaran kejahatan bangsa Israel tersebut pada ayat selanjutnya. 5. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, kami datangkan kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (Al Isra: 5) Ulama besar penulis tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, menjelaskan bahwa kejahatan pertama bani Israel berada di puncak kekuasaan dan mereka memiliki kekuatan dan kejayaan di tanah suci, Palestina, lalu mereka membuat kerusakan di sana. Maka Alloh mendatangkan sebagian hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan dan persenjataan besar yang kemudian memporak-porandakan perkampungan mereka. Tentara-tentara itu merajelela di negeri Israel, menghinakan mereka, dan mengusir mereka. Tentara-tentara ini datang dari Kerajaan Romawi. Kemudian ketika bani Israel merasakan kesengsaraan akibat kekalahan dan penindasan bangsa lain, mereka kembali kepada Tuhan mereka dan mereformasi kehidupan mereka. Kemudian mereka mengambil pelajaran dari bencana yang mereka derita. Kemudian ketika Kerajaan Romawi, bangsa pemenang terbuai oleh kekuatannya, lalu congkak, dan melampaui batas serta membuat kerusakan di muka bumi, maka Alloh kemudian menolong bani Israel dan kembali memberikan kekuasaan kepadanya. Kisah ini Alloh jelaskan dalam Surat Al Isra’ ayat 6 6. Kemudian kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Setelah itu kisah sejarah kembali berulang. Saayid Quthb menjelaskan adanya prediksi ilahiyah yang menegaskan prinsip amal perbuatan dan balasannya. Inilah yang dikemukakan dalam ayat 7 Surat Al Isra. 7. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, ... Sebuah prinsip yag akan berubah di dunia maupun di akhirat. Suatu kaidah yang enetapkan perbuatan manusia akan menjadi miliknya, dengan semua hasil dan konsekuensinya. Setiap perbuatan pasti ada balasannya. Oleh karena itulah setiap manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ya ibadalloh…Rupanya Bani Israil kembali congkak dan membuat kerusakan lagi. Maka Alloh telah menyiapkan hukuman lagi kepada mereka. dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Inilah janji Alloh yaa Ibadalloh. ‘Wa’dallohi haqqo’ Janji Alloh adalah benar. Dan kini Israel kembali membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka sombong dan congkak. Menguasai tanah suci Palestina, membunuh saudara-saudara kita di Palestina. Dan tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana kesombongan bangsa Israel membombardir kapal utusan kemanusian, Mevi Marmara, yang membawa misi kemanusiaan ke Palestina. Inilah kekejaman Israel. Dan kita harus yakin, bahwa janji Alloh adalah benar. Alloh pasti akan kembali menghinakan bangsa Israel. Bahkan akan menjadikan neraka Jahannam sebagai penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. Khutbah kedua: Sidang jumat Rahimakumullah… Kita semua tahu bahwa saudara-saudara kita di Palestina sedang berjuang menghadapi kekejaman, kesombongan, dan perusakan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi Israel. Maka sudah menjadi kepastian bagi kita untuk tidak berdiam diri. Karena Alloh telah mengikat kita sebagai sesama muslim adalah saudara. Maka jika saudara kita disakiti, kita pun merasakan sakitnya. Jika saudara kita didholimi, maka kita pun tidak boleh diam saja. Oleh karena itu ya ibadalloh, dengan hikmah yang kita peroleh dari peristiwa besar Isro’ dan Mi’roj, marilah kita gunakan kesempatan ini untuk memohon pertolongan kepada Alloh. Kita tingkatkan kualitas dan kuantitas sholat kita seperti yang diajarkan Rosululloh SAW. Pada kesempatan ini marilah kita berdoa kepada Alloh SWT. "We seize control FOR THE GREATER GOOD. And from this it follows that where we meet resistance, we must use only the force that is necessary and no more"-Albus Dumbledore (Harry Potter and The Deathly Hallows-JK Rowling)
Bergerak dalam tataran politik memang penuh risiko pengambilan keputusan. "Great power comes with great responsibilities", begitu kata Uncle Ben, paman Peter Parker-Spiderman. risiko pengambilan keputusan itu pula yang bermakna linier dengan tanggung jawab dan dampak yang diperoleh. Maka wajar jika Imam Al Ghazali memasukkan siyasi (politik) sebagai salah satu dari empat kebutuhan pokok manusia disamping sandang, pangan, dan papan. Oleh karena tanggung jawab yang besar inilah, upaya politik untuk meraih kebaikan yang lebih besar juga butuh perjuangan dan pengorbanan. Karena tidak dipungkiri sering kali upaya menuju ke arah kebaikan itu mendapat tantangan dan hambatan. Dalam kondisi seperti ini, mungkin tapat pendapat Professor Albus Dumbledore, perlu digunakan kekuatan dalam kadar yang seperlunya. Pada masa Rasulullah ada seorang tokoh Yahudi yang kaya dan berpengaruh di Madinah bernama Ka'b bin Al-Asyraf. Tokoh Yahudi ini merupakan tokoh yang paling menonjol dalam memusuhi Islam pasca kemenangan Badar. Bahkan setelah kekalahan kaum Yahudi pada perang Bani Qainuqa' yang melanggar perjanjian dengan Kaum Muslimin, Ka'b bin Al-Asyraf tetap bersemangat melancarkan fitnah dan adu domba. Maka demi kebaikan yang lebih besar, Rasulullah menawarkan kepada para sahabat untuk membunuh Ka'b bin Al-Asraf. Lantas beberapa sahabat, di antaranya Abu Na'ilah (saudara sepersusuan Ka'b bin Al Asraf), mengajukan diri untuk menyusun skenario pembunuhan Ka'b bin Al Asraf. Pembunuhan Ka'b bin Al-Asraf itu merupakan salah satu bentuk political conspiracy, yang disusun oleh umat Islam dengan memanfaatkan Abu Na'ilah yang memiliki kedekatan dengan Ka'b bin Al-Asraf. Political conspiracy seperti ini merupakan bentuk kekuatan yang digunakan untuk menegakkan kebaikan yang lebih besar. Karena memang nyata akibatnya bahwa keberadaan Ka'b bin Al-Asraf bagai duri dalam daging pada kehidupan di Madinah. Jika tidak dienyahkan, maka Ka'b bin Al-Asraf hanya akan membawa keburukan dan perpecahan di Madinah. Itu sekilas fakta politik yang terjadi jauh dari kehidupan saia saat ini. Jauh dari kehidupan saia, namun saia tahu karena mempelajari sejarahnya. Namun rupanya sejarah yang berputar berbeda penyikapannya. Saia merasa kondisi saat ini peruntukan political conspiracy sangat berbeda dengan sejarah yang saia baca. Ada beberapa pejabat dengan dalih silaturahmi kepada pejabat lain, rupanya hal itu merupakan lobi politik. Lagi-lagi political conspiracy. Hanya saja saia tidak melihat demi kebaikan yang lebih besar yang mendasari political conspiracy tersebut. Lantas siapa yang diuntungkan dalam political conspiracy itu? Pastinya hanya segelintir orang, sedikit pihak, atau keuntungan personal semata. Bahkan political conspiracy ini meruntuhkan tatanan yang sudah dibuat dalam jangka waktu beberapa menit. Dalam lingkup kecil, hasil political conspiracy segelintir pejabat ini di bawa menuju legalitas politik. Tentu dengan cara menggulirkan isu, lantas menyamarkan solusi dan treatment yang sudah ada. Hingga akhirnya keyakinan atas fakta-fakta diserang dengan argumentasi yang membawa keraguan. Cara menghembuskan keraguan ini juga dengan cara political conspiracy yang jauh dari metode kebaikan. Metode itu misalnya berbisik-bisik, dengan cara dan bentuk apapun. Mulai dari mendatangi personil dalam sebuah forum musyawarah lantas membisikkan sesuatu, pemanfaatan SMS atau blackberry messenger untuk menyusun skenario rahasia, hingga bersembunyi dalam kemunafikan. Rupanya Rasulullah sangat memahami dan mengkhawatirkan kondisi yang membawa keburukan ini. Hingga beliau memberikan larangan "Janganlah dua orang berbisik-bisik dengan meninggalkan orang ketiga, sebab hal itu dapat membuatnya sedih (HR. Bukhari dan Muslim)." Bisa jadi ketika membaca sekilas hadits ini, dampak yang ditimbulkan hanyalah dampak psikologis, yakni sedih semata. Namun lebih dari itu, dampak negatifnya bisa merusak tatanan kehidupan bahkan menjerumuskan ke dalam kesesatan. Dalam lingkup besar, tentulah rakyat yang dirugikan political conspiracy tanpa tujuan membawa kebaikan yang lebih besar dan penggunaan kekuatan yang tidak diperlukan ini. Atau lebih parahnya lagi, rakyat (atau bahkan pejabat yang tak peduli) nyata-nyata dibohongi, dirugikan, dan di-dholim-i tanpa mereka menyadari. Namun ditengah kekeruhan politik ini, saia masih yakin bahwa Islam itu syamil (menyeluruh). Oleh karena Islam itu komprehensif, maka jangan pisahkan politik dari Islam. Karena hal itu dapat menjauhkan umat dari tatanan kehidupan yang lebih baik. Bahkan menyesatkan pengguna informasi yang merupakan buah dari political conspiracy not for greater good.
*ditulis ketika memanfaatkan overtime dan menunggu kepastian treatment of government financial engineering. "Setelah SMI memilih jalan untuk berkarier di World Bank, SBY akhirnya menunjuk Agus Martowadojo menjadi Menkeu" Sebenarnya saia pengen menulis materi itu dari kemarin. Keinginan menulis topik itu karena saia sedang belajar politik keuangan saat ini. Mungkin apa yang saia rasakan sama dengan beberapa penyimak warta ketika melihat Pidato SBY yang menetapkan Agus Martowardojo sebagai Menkeu. SBY kembali memilih kalangan bankir untuk menjabat Menkeu. Agus Martowardojo dikenal sebagai Direktur Utama Bank Mandiri. Rekam jejak Agus Martowardojo menegaskan bahwa Menkeu ini dibesarkan oleh bank, dari Bank of America, Bank Niaga, Bank Bumiputera, Bank Exim, BPPN (yang sampai sekarang asetnya ga kelar2 dipegan PT PPA dan DJKN), dan Bank Permata. Sebelumnya SMI juga berangkat dari IMF sebelum menjabat menjadi Menkeu. Saat itu SBY mengangkat SMI menjadi Menkeu menggantikan Jusuf Anwar melalui reshufle kabinet. Di satu sisi, saia sangat apresiatif terhadap SMI karena berhasil mengawal reformasi birokrasi di Depkeu (sekarang Kemenkeu). Selain itu secara pribadi SMI juga menginspirasi saia, terutama selama saia masih kuliah di D4 STAN. Bahkan dalam kasus Century pun, kemampuan dan analisisnya terhadap kondisi perekonomian sangat memukau (tapi tidak dipungkiri bahwa lebih banyak politisi yang tidak mengerti daripada yg paham). Namun disisi yang lain saia juga melihat dominasi monetaris pada SMI. Pandangan saia ini didasari pada kebijakan utang pemerintah saat ini. Bukan secara peraturan yang saia lihat. tapi baru sebatas data SBN pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2008. Pada tahun 2008 Penerbitan SBN Rp85,92T, padahal Defisit Anggaran hanya Rp4,12T. Kalaupun digunakan untuk refinancing, Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri hanya sebesar Rp63,44T. Lantas yang Rp18T untuk apa? Secara matematis angka itu menjadi bagian dari SILPA sebesar Rp79,95T. Maka jawabnya utang itu digunakan untuk pembiayaan Tahun 2009. Enaknya ngomong, pemerintah ga perlu menerbitkan utang sebesar itu. Karena kebanyakan utang juga berpengaruh pada solvabilitas pemerintah. Saia bukannya anti terhadap utang. Tapi menurut saia baik dalam tataran kehidupan pribadi, berkeluarga, berorganisasi, maupun bernegara, keputusan utang ini harus penuh pertimbangan matang. Apalagi sekarang Pemerintah memiliki UU tentang SUKUK. Harapan saia UU ini mampu mereduksi keinginan untuk ngutang-ngutang tanpa ada underlying asset yang jelas. Karena utang yang tidak didasari pada underlying asset memiliki tingkat diskresioner yang tinggi. Yah, kalo membicarakan masalah diskresioner, literatur skripsi saia bilang, kondisi itu rawan permainan angka-angka keuangan (baca:kecurangan). Nah, selepas SMI, SBY masih memilih kalangan bankir/moneteris. Jujur, saia mengira Pak Anggito Abimanyu yang akan menggantikan SMI. Menurut saia beliau merupakan sosok yang mampu menjadi "sparing partner" terhadap sisi monetaris SMI. Pak Anggito yang Ketua BKF tentu dominasi kebijakannya adalah fiskal. Singkat kata, menurut saia Pak Anggito itu Fiskalis. Dan beliau berhasil memainkan perannya dengan baik. Tentu saja pertimbangan saia ini terkait pula dengan posisi beliau yang 'digantung' SBY terkait jabatan Wamenkeu. Namun berita pagi ini menuliskan bahwa Anggito Abimanyu mengindurkan diri dari Kemenkeu. Dengan tiadanya Pak Anggito, saia bertanya-tanya, siapa yang nanti akan menjadi "sparing partner"-nya kalangan moneteris di Kemenkeu? Jauh diatas kondisi saat ini, mimpi saia menelisik, saat ini memang ekonomi syariah belum bisa menyaingi dominasi kaum moneteris. Tapi dengan adanya pemikiran berlarbelakang fiskalis setidaknya bisa mengerem kebijakan-kebijakan ribawi di negeri ini. Dominasi kaum moneteris ini terlihat dari fungsi BI sebagai pelaksana kebijakan moneter, dan Pimpinan Kemenkeu yang dari bankir juga. Padahal Kemenkeu seharusnya mengendalikan perekonomian dari kebijakan fiskal. Yah, semoga dengan Kemenkeu dipimpin kembali oleh kalangan moneteris justru menjadikan kesadaran akan bahaya riba. Semoga... Dakwah....jalan dakwah. itulah yang seharusnya dipilih oleh setiap ikhwah. karena dengan dakwah, kejayaan Islam akan bergerak masif dan kompulsif. dan jalan itu pula yg insya Allah menetap di hati keluarga saia. Bismillah.... Adalah dakwah sya'bi kewajiban dakwah yang ada di depan saia. dakwah dalam tataran kehidupan bermasyarakat. beberapa hari ini tantangan ini menggelayut mesra di benak saia. rupanya friksi, pertentangan, tantangan, pembelajaran, amanah, dan pergerakan yang pernah saia pelajari di kampus masih kurang keras dalam menempa saia. tataran teoritis dalam buku-buku dakwah rupanya harus dikuliti dengan hati-hati dalam menghadapi tantangan dakwah sya'bi. belum cukup rupanya dasar teori itu saia pelajari. dan belum cukup pula segala pengalaman di kampus. saia baru melangkah memasuki mihwar sya'bi ini, belum muashasi yang masih jauh dari pandangku, walaupun saia sadar, mihwar itu akan datang cepat atau lambat.
ataukah memang ini adalah ujian baru yang harus saia perjuangkan? apakah tantangan ini merupakan tarbiyah lanjutan yang harus saia cerna dengan baik? inikah kehidupan yang sebenarnya dalam lingkungan yang lebih heterogen dibanding kehidupan kampus?
Allah...berikan hamba-Mu kekuatan untuk mengemban dakwah ini Allah...limpahkan kesabaran dalam hati hamba-Mu yang lemah ini Allah...jadikan jalan ini jalan yang mendekatkanku pada keridhoan-Mu Allah...jadikan air mata ini pembasuh api neraka yang sangat dikhawatrkan hamba-Mu ini Allah...jadikan kegundahan ini sebagai awal ketenangan ketika hendak menghadap-Mu nanti Allah...aku yakin, Engkau pasti akan mendampingi hamba-hamba-Mu yang berniat, mengawali, dan istiqomah di jalan dakwah Allah...kepada siapa aku memohon selain kepada-Mu
Ya muqolibal qulub tsabit qolbi ala diinik, ya mushorifal qulub tsabit qolbi ala thoatik
|